Terastangerang.id ,- Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus mengakselerasi target nasional penanaman 2 miliar pohon melalui aksi penanaman mangrove.

Langkah strategis ini tidak hanya menjadi simbol komitmen pemulihan ekosistem pesisir Nusantara, tetapi juga percontohan etika lingkungan nasional.

“Hari ini kita menanam mangrove bukan sekadar untuk menghijaukan pesisir, tetapi mengirimkan pesan bahwa kerusakan lingkungan bisa dipulihkan jika ada kemauan dan partisipasi bersama,” kata Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, di Arboretum Park, Tanjung Benoa, Bali, dalam keterangan pers, Rabu (10/6/26).

Jumhur menegaskan bahwa restorasi mangrove bukan hanya soal menanam pohon, tetapi memastikan ekosistem pesisir kembali pulih dan memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan sebagai bagian dari target penanaman 2 miliar pohon di seluruh Indonesia.

Menyoroti kerentanan pulau-pulau kecil terhadap abrasi dan dampak perubahan iklim, KLH/BPLH menempatkan mangrove sebagai prioritas pelindung utama. Apalagi, Indonesia saat ini memiliki sekitar 3,45 juta hektare kawasan mangrove (setara 23 persen mangrove dunia).

“Mangrove adalah benteng pertahanan alami terbaik kita. Kementerian LH berkomitmen penuh menjadikan Arboretum Park ini sebagai laboratorium alam dan pusat edukasi restorasi mangrove berskala nasional, yang ilmunya bisa direplikasi ke pulau-pulau kecil lainnya di seluruh Nusantara,” tegas Jumhur.

Masyarakat global saat ini, kata Jumhur, semakin peduli pada etika lingkungan. Ketika suatu daerah mengabarkan keseriusannya dalam memelihara alam, dunia akan menaruh simpati yang berdampak pada peningkatan angka kunjungan wisatawan.

“Marilah kita semakin ramah terhadap lingkungan dan masyarakat Bali menjadi contoh beretika lingkungan untuk seluruh warga di Republik Indonesia ini,” pungkasnya. (rls/*)