Terastangerang.id , – ​Aroma segar sayuran dan hiruk-pikuk khas Pasar Anyar Kota Tangerang menyambut kedatangan rombongan DPRD dan Perumda Bali pagi itu.

Namun, langkah mereka bukan terhenti di lapak pedagang, melainkan tertuju pada sebuah sudut yang dikelola oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Gerendeng.

Di sana, mereka menyaksikan sebuah keajaiban kecil: ribuan maggot yang sedang sibuk “bekerja” melahap sampah organik.

​Hok Tjoan, sang penggerak di balik inovasi ini, tampak antusias menjelaskan proses tersebut kepada para delegasi.

Ia menunjukkan bagaimana sampah sisa sayuran, ampas kelapa, hingga nasi sisa dari warung-warung sekitar disulap menjadi pakan berkualitas bagi maggot.

Metode ini pun langsung mencuri perhatian rombongan asal Pulau Dewata tersebut karena dinilai sangat efektif, cepat, dan yang terpenting, tidak menimbulkan bau yang mengganggu—sebuah solusi jitu untuk masalah sampah di tengah padatnya perkotaan.

​“Di tangan kami, apa yang sebelumnya dianggap masalah, kini berubah menjadi sumber daya bernilai. Maggot-maggot ini bukan sekadar pengurai sampah, tapi juga memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai pakan ternak,” tutur Hok Tjoan dengan nada bangga, Rabu 6 Mei 2026.

​Manfaat dari budidaya ini memang tidak berhenti pada kebersihan lingkungan semata. Hok Tjoan memaparkan bahwa kegiatan ini telah menjadi napas ekonomi baru bagi pengelola dan warga sekitar.

Hasil panen maggot ternyata menjadi incaran banyak pihak, mulai dari para peternak lokal hingga pelaku usaha perikanan yang mencari pakan alternatif bermutu tinggi.

​Kunjungan ini pun diakhiri dengan harapan besar. Inovasi dari KIM Gerendeng ini diharapkan tidak hanya berhenti di Kota Tangerang, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk mulai mengelola sampah secara berkelanjutan.

“Ini adalah sebuah bukti nyata bahwa keberlanjutan lingkungan dan peluang ekonomi bisa berjalan beriringan, dimulai dari pengelolaan sampah yang tepat sasaran,” pungkasnya. (Panji)